Perjalanan Baitul Amar

Menelusuri perjalanan MI Baitul Amar dari tahun 2010 hingga hari ini.

Awal Sebuah Perjalanan

Kepedulian yang Menjadi Sebuah Rumah Pendidikan

Madrasah Ibtidaiyah Baitul Amar lahir dari sebuah kegelisahan tentang masih banyaknya anak-anak di Kota Batam yang belum memperoleh kesempatan pendidikan sebagaimana mestinya.

Gagasan tersebut tumbuh dari pengalaman Nurmanisma Hasibuan, M.Pd.I, seorang pendidik yang pada saat itu aktif mengajar sekaligus mendapat amanah sebagai Kepala Madrasah di salah satu madrasah swasta di Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam.

Selain berkecimpung dalam dunia pendidikan, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan bersama berbagai lembaga dan organisasi di Kepulauan Riau. Pengalaman tersebut mempertemukannya secara langsung dengan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak dan keluarga di lingkungan sekitarnya.

Nurmanisma Hasibuan, M.Pd.I — Pendiri MI Baitul Amar
Pendiri

Nurmanisma Hasibuan, M.Pd.I

Penggagas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Baitul Amar.

2010Awal perjalanan
Baitul Amar
40Usia pendiri saat
memulai gagasan
BatamKota tempat perjalanan
ini dimulai
Mengapa Baitul Amar Didirikan?

Pendidikan yang Berangkat dari Persoalan Nyata di Masyarakat

Pada masa itu, masih banyak anak usia sekolah di Kota Batam yang mengalami hambatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga administrasi keluarga, lingkungan sosial, dan keterbatasan akses terhadap sekolah.

01

Akses Pendidikan

Sebagian anak usia sekolah terkendala untuk masuk ke sekolah formal karena belum memiliki dokumen administrasi seperti akta kelahiran maupun kelengkapan data keluarga.

02

Kondisi Ekonomi

Anak-anak dari keluarga dhuafa, yatim, maupun keluarga dengan keterbatasan ekonomi membutuhkan akses pendidikan yang tetap terjangkau dan memberikan kesempatan untuk terus belajar.

03

Anak Putus Sekolah

Di sejumlah kawasan di Batam, masih ditemukan anak usia sekolah yang bekerja sebagai pemulung, pengamen, pekerja informal, maupun membantu keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

04

Lingkungan Sosial

Keterbatasan pengawasan dan pendidikan membuat sebagian anak lebih rentan terhadap eksploitasi, pergaulan yang tidak sehat, kekerasan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa anak-anak tidak cukup hanya dibantu secara sesaat. Mereka membutuhkan sebuah tempat belajar yang aman, terarah, dan mampu memberikan kesempatan untuk membangun masa depan.

Dari Rumah Singgah Menuju Madrasah

Langkah Kecil yang Perlahan Menjadi Sebuah Gerakan Pendidikan

Sebelum berdiri sebagai lembaga pendidikan formal, kepedulian terhadap anak-anak diwujudkan melalui rumah singgah dan berbagai kegiatan pendidikan nonformal di sejumlah wilayah Kota Batam.

Dokumentasi awal perjalanan Baitul Amar
Dokumentasi awal perjalanan pendidikan Baitul Amar.
Kegiatan pendidikan awal Baitul Amar
Kegiatan pendidikan dan pendampingan pada masa awal.
01

Rumah Singgah sebagai Langkah Awal

Upaya awal dilakukan dengan membangun kegiatan rumah singgah di beberapa wilayah, khususnya di Jodoh, Bengkong, dan Batu Ampar.

Tempat-tempat tersebut menjadi ruang untuk mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendidikan, dan lingkungan belajar yang lebih baik.

02

Pendidikan yang Dimulai dari Hal Dasar

Anak-anak yang berkumpul di rumah singgah diberikan pendidikan nonformal berupa pembelajaran adab dan akhlak, membaca, menulis, kaligrafi, belajar shalat, serta berbagai aktivitas sosial.

Mereka juga dilibatkan dalam kegiatan kemanusiaan sebagai bagian dari proses belajar tentang kepedulian, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat.

03

Kebutuhan akan Pendidikan Formal

Dari proses pendampingan tersebut muncul kesadaran bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar pendidikan nonformal. Mereka juga membutuhkan pendidikan formal yang diakui agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Dari sinilah gagasan untuk membangun sebuah lembaga pendidikan Islam formal mulai semakin kuat.

Dukungan di Awal Perjalanan

Sebuah gagasan yang tidak berjalan sendiri

01
Nurmanisma Hasibuan, M.Pd.I

Penggagas utama pendirian MI Baitul Amar.

02
Achyar Selamat, S.Pd.I

Rekan seprofesi yang diajak mendukung proses awal pendirian.

03
Panusunan Hasibuan

Turut mendukung proses awal berdirinya MI Baitul Amar.

Perkembangan Awal
11

Siswa Pertama, Satu Rumah, dan Sebuah Harapan

MI Baitul Amar memulai perjalanan pendidikannya dengan 11 orang siswa dan proses belajar yang masih dilakukan di rumah pendiri.

Tempat Belajar Pertama

Belajar dari Rumah Pendiri

Pada masa awal, Yayasan Baitul Amar belum memiliki lahan maupun gedung sekolah sendiri. Proses pembelajaran dilakukan di rumah Nurmanisma Hasibuan di kawasan Kavling Sei Tering, Kota Batam.

Guru Pertama

Mengajar dengan Semangat Pengabdian

Proses belajar mengajar pada masa awal didukung oleh Sarinah Batu Bara, Yeni, dan Ustadz Arman Siagian. Dengan fasilitas yang masih terbatas, kegiatan pendidikan tetap berjalan dengan semangat pengabdian.

Prioritas Pendidikan

Membuka Pintu untuk Anak yang Membutuhkan

Pendidikan pada masa awal diprioritaskan bagi anak-anak dari rumah singgah, anak putus sekolah, yatim, dhuafa, serta anak usia sekolah yang mengalami kendala administrasi.

Bagi anak-anak yang termasuk dalam sasaran tersebut, pendidikan diberikan secara gratis hingga selesai. Dalam beberapa kondisi, keluarga siswa juga mendapat dukungan sesuai kemampuan yayasan pada saat itu.

Dokumentasi siswa dan proses pembelajaran awal MI Baitul Amar
Berawal dari ruang belajar yang sederhanaProses pendidikan MI Baitul Amar dimulai dengan 11 siswa dan fasilitas yang masih sangat terbatas.
Menjemput Anak untuk Kembali Belajar

Pendidikan tidak hanya menunggu di ruang kelas

Para pendiri dan guru tidak hanya menunggu siswa datang. Mereka melakukan penelusuran ke sejumlah kawasan di sekitar Jodoh, Bengkong, dan Batu Ampar untuk menemukan anak-anak putus sekolah, yatim, maupun dhuafa yang masih membutuhkan kesempatan memperoleh pendidikan.

Pantai StresTanjung UmaTanjung TritipKampung PisangBukit SenyumBengkongMekar WangiSei Tering
11Siswa pertama
3Guru pada masa awal
2010Tahun pembelajaran dimulai
GratisUntuk siswa prioritas
Perjalanan Baitul Amar

Dari Gagasan Sederhana hingga Terus Bertumbuh Sampai Hari Ini

Setiap fase menjadi bagian penting dalam perjalanan MI Baitul Amar, mulai dari gagasan awal, proses pendidikan pertama, hingga perkembangan fasilitas madrasah.

201009 Februari
Gagasan Awal

Langkah Menuju Pendidikan Formal

Nurmanisma Hasibuan mulai mewujudkan gagasan mendirikan sebuah lembaga pendidikan formal yang dapat membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.

201019 Juni
Berdirinya Madrasah

MI Baitul Amar Memulai Perjalanan

Madrasah Ibtidaiyah Baitul Amar resmi didirikan dengan semangat menghadirkan pendidikan Islam yang terbuka bagi anak-anak dari berbagai kondisi sosial dan ekonomi.

2010Periode Awal
11 Siswa Pertama

Belajar Dimulai dari Sebuah Rumah

Dengan 11 siswa dan tiga guru pada masa awal, proses pembelajaran berlangsung di rumah pendiri di kawasan Kavling Sei Tering, Kota Batam.

201221 Februari
Izin Operasional

Pengakuan sebagai Lembaga Pendidikan

Izin operasional MI Baitul Amar diterbitkan oleh Kementerian Agama Kota Batam, memperkuat keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal.

±2013Pengembangan
Gedung Madrasah

Memiliki Ruang Belajar Sendiri

Sekitar tiga tahun setelah perjalanan awal dimulai, gedung MI Baitul Amar berhasil dibangun di atas lahan dengan luas sekitar 1.400 meter persegi.

Meski fasilitas dan ruang kelas pada masa itu masih sederhana, keberadaan gedung menjadi tonggak penting bagi perkembangan madrasah.

Gedung lama MI Baitul Amar
Gedung madrasah pada fase awal perkembangan.
Perjalanan yang Terus Berlanjut

Semangat yang Sama, Langkah yang Terus Bertumbuh

Perjalanan MI Baitul Amar bermula dari kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk belajar. Dari rumah singgah, 11 siswa pertama, hingga berkembang menjadi madrasah seperti saat ini, semangat tersebut tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Baitul Amar.

Hari ini, MI Baitul Amar terus berupaya menghadirkan pendidikan Islam yang membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Sejak2010

Melayani pendidikan anak-anak di Kota Batam